KHUTBAH JUMAT: MENJEMPUT PERTOLONGAN ALLAH DI TENGAH KONDISI LINGKUNGAN YANG CARUT-MARUT
MENJEMPUT PERTOLONGAN ALLAH DI TENGAH KONDISI LINGKUNGAN YANG CARUT-MARUT
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya kita bawa ketika berada di dalam masjid, melainkan harus hadir di rumah, di tempat kerja, di pasar, di sekolah, di tengah masyarakat, bahkan ketika kita memegang amanah dan kekuasaan.
Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengajak diri khatib pribadi dan seluruh jamaah untuk merenungkan sebuah persoalan besar: bagaimana kita menjemput pertolongan Allah di tengah kondisi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai persoalan dan ujian kehidupan?
1. Melihat Kondisi Masyarakat: Ada Apa dengan Negeri Kita?
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Jika kita memperhatikan kehidupan masyarakat Indonesia hari ini, kita menyaksikan berbagai persoalan yang membuat hati kita prihatin.
Sebagian masyarakat menghadapi kesulitan ekonomi. Harga kebutuhan hidup dirasakan berat oleh sebagian keluarga. Ada orang tua yang berjuang memenuhi kebutuhan anak-anaknya, ada pekerja yang khawatir kehilangan pekerjaan, ada keluarga yang terjerat utang, dan ada pula masyarakat yang terjebak dalam pinjaman online yang bermasalah, bunga yang memberatkan, serta praktik penagihan yang menyengsarakan.
Kita juga menyaksikan persoalan sosial yang tidak kalah memprihatinkan. Perjudian online atau judol telah merusak sebagian kehidupan rumah tangga. Ada harta yang semestinya digunakan untuk kebutuhan keluarga justru habis di meja perjudian digital. Ada orang yang kehilangan ketenangan, menumpuk utang, bahkan melakukan tindakan yang merugikan orang-orang terdekatnya.
Di sisi lain, kita menghadapi persoalan pergaulan bebas, perzinaan, kekerasan seksual, aborsi yang tidak dibenarkan syariat, penyalahgunaan narkoba, korupsi, penipuan, fitnah, kebencian, dan berbagai kemaksiatan lainnya.
Di tengah kehidupan berbangsa, kita juga menyaksikan konflik kepentingan, penyalahgunaan amanah, ketidakadilan yang dirasakan sebagian masyarakat, serta menurunnya kepercayaan ketika tanggung jawab tidak ditunaikan dengan baik.
Belum lagi bencana alam, persoalan lingkungan, berbagai penyakit, kesulitan pendidikan, dan kegelisahan orang tua dalam mendidik generasi muda di tengah derasnya arus informasi.
Tentu, tidak semua masyarakat berada dalam keadaan buruk. Masih banyak orang jujur, keluarga yang menjaga kehormatan, pemimpin yang amanah, guru yang berdedikasi, ulama yang membimbing umat, dan anak-anak muda yang berjuang melakukan kebaikan. Kita patut bersyukur atas semua itu.
Namun, jamaah sekalian, berbagai persoalan tersebut harus menjadi bahan muhasabah. Kita tidak boleh hanya sibuk membicarakan keburukan, menyalahkan orang lain, atau mengeluhkan keadaan, tetapi melupakan pertanyaan yang lebih mendasar:
Sudahkah kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah? Sudahkah kita membenahi keyakinan, ibadah, akhlak, dan cara kita menjalani kehidupan?
Sebab, persoalan masyarakat tentu memiliki banyak sebab: ekonomi, pendidikan, tata kelola, lingkungan sosial, penegakan hukum, dan juga persoalan moral serta spiritual. Karena itu, kita membutuhkan ikhtiar yang menyeluruh. Sebagai umat Islam, salah satu ikhtiar mendasar yang tidak boleh kita abaikan adalah kembali membangun keimanan dan tauhid yang benar.
2. Menengok Sejarah: Bagaimana Keadaan Masyarakat Ketika Rasulullah ﷺ Diutus?
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita menengok sejarah. Apakah masyarakat kita hari ini satu-satunya masyarakat yang pernah mengalami kerusakan sosial, ketidakadilan, dan kesulitan hidup?
Tentu tidak.
Ketika Rasulullah Muhammad ﷺ diutus, masyarakat Arab, khususnya di Makkah, juga menghadapi persoalan besar.
Dalam urusan akidah, sebagian masyarakat melakukan kemusyrikan dengan menyembah berhala dan menjadikannya perantara dalam penghambaan mereka. Padahal, Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
Dalam kehidupan sosial, fanatisme kesukuan sangat kuat. Kedudukan seseorang sering kali ditentukan oleh keturunan, kekayaan, dan kekuatan kelompoknya. Orang yang lemah tidak selalu mendapatkan perlindungan yang semestinya.
Dalam urusan ekonomi, terdapat praktik-praktik yang zalim dan merugikan. Dalam kehidupan moral, berbagai kebiasaan jahiliah bertentangan dengan petunjuk Allah. Bahkan, Al-Qur'an mengingatkan tentang tradisi sebagian masyarakat yang mengubur anak perempuan hidup-hidup.
“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh?”
QS. At-Takwir: 8–9
Dalam urusan kekuasaan, kaum Quraisy memiliki pengaruh besar di Makkah. Para pemuka yang mempertahankan kepentingan dan kedudukan mereka menentang dakwah Rasulullah ﷺ karena ajaran tauhid mengancam tradisi kemusyrikan dan tatanan kepentingan yang selama ini mereka pertahankan.
Rasulullah ﷺ tidak datang untuk sekadar memperbaiki penampilan masyarakat. Beliau datang membawa wahyu, meluruskan keyakinan, mengajak manusia menyembah Allah semata, memperbaiki akhlak, menegakkan keadilan, dan membangun kehidupan berdasarkan petunjuk-Nya.
Lantas, bagaimana Rasulullah ﷺ menghadapi keadaan seperti itu?
Apakah beliau memulainya dengan mengumpulkan kekuatan politik semata? Apakah beliau hanya mengajak masyarakat membicarakan kerusakan penguasa? Ataukah beliau memulai dari sesuatu yang lebih mendasar?
Mari kita pelajari perjalanan dakwah beliau.
3. Rasulullah ﷺ Membangun Fondasi Keimanan Sebelum Membangun Masyarakat
Jamaah yang dirahmati Allah,
Selama kurang lebih tiga belas tahun periode dakwah di Makkah, Rasulullah ﷺ membina umat dengan penekanan yang sangat kuat pada tauhid, keimanan kepada Allah, keyakinan terhadap hari akhir, dan kesediaan untuk tunduk kepada wahyu.
Beliau menanamkan keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Beliau membangun kesadaran bahwa kehidupan dunia bukanlah akhir perjalanan manusia. Ada kematian, alam akhirat, kebangkitan, penghisaban, surga, dan neraka.
Beliau mendidik para sahabat agar tidak menjadikan kekayaan, jabatan, tradisi, hawa nafsu, ataupun ancaman manusia sebagai sesuatu yang mengalahkan ketaatan kepada Allah.
Mengapa pembinaan ini begitu penting?
Karena manusia yang hanya mengetahui kebaikan belum tentu sanggup menjalankannya ketika menghadapi tekanan. Manusia yang mengetahui kebenaran belum tentu berani mempertahankannya ketika kebenaran itu membuatnya kehilangan keuntungan duniawi.
Dibutuhkan iman yang tertanam kuat di dalam hati.
Perhatikanlah kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu.
Bilal adalah seorang sahabat yang disiksa oleh majikannya, Umayyah bin Khalaf, karena memeluk Islam. Dalam riwayat sirah yang masyhur, Bilal dibaringkan di atas pasir yang panas di bawah terik matahari. Sebuah batu besar diletakkan di atas dadanya. Ia mengalami penyiksaan agar meninggalkan tauhid dan kembali kepada kemusyrikan.
Namun, Bilal tetap mempertahankan keimanannya. Ia mengulang-ulang kalimat, “Ahad, Ahad,” yang berarti Allah Maha Esa.
Bayangkan, jamaah sekalian!
Ketika tubuhnya tidak berdaya, ketika panas menyiksa kulitnya, ketika ancaman dan penderitaan menghimpit dirinya, Bilal tetap mempertahankan keyakinannya kepada Allah.
Apa yang membuat Bilal bertahan?
Bukan karena tubuhnya lebih kuat daripada para penyiksanya. Bukan pula karena ia memiliki kekuasaan atau harta. Ia bertahan karena iman yang tertanam dalam jiwanya.
Akhirnya, Bilal dibebaskan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.
Inilah pelajaran besar bagi kita: tauhid bukan sekadar pengetahuan yang diucapkan oleh lisan, melainkan keyakinan yang menguatkan manusia untuk tetap taat kepada Allah sekalipun menghadapi ujian.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Lihatlah pula kisah keluarga Yasir.
Yasir bin Amir, istrinya Sumayyah binti Khayyath, dan putra mereka Ammar bin Yasir termasuk di antara kaum Muslimin yang mengalami penyiksaan akibat mempertahankan keislaman mereka.
Keluarga ini tidak memiliki kekuatan politik untuk melawan para pemuka Quraisy. Mereka bukan kelompok yang memiliki kedudukan tinggi di tengah masyarakat. Namun, mereka memiliki sesuatu yang sangat berharga: iman kepada Allah.
Sumayyah radhiyallahu 'anha akhirnya gugur sebagai syahid setelah mengalami penyiksaan. Ia dikenal dalam sejarah Islam sebagai perempuan yang termasuk paling awal memperoleh kemuliaan syahid karena mempertahankan keimanannya.
Ammar pun mengalami penyiksaan yang sangat berat. Dalam keadaan terpaksa di bawah tekanan, ia mengucapkan sesuatu yang tidak dikehendaki hatinya. Rasulullah ﷺ memberikan pengajaran tentang keadaan orang yang dipaksa, sebagaimana Allah menjelaskan dalam Al-Qur'an:
“Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman.”
QS. An-Nahl: 106
Kisah Ammar mengajarkan bahwa Islam bukan agama yang mengabaikan keadaan manusia. Allah mengetahui tekanan yang dihadapi hamba-Nya. Keimanan dinilai dengan memperhatikan keyakinan hati, kemampuan, dan keadaan yang sesungguhnya.
Ada pula Khabbab bin Al-Aratt radhiyallahu 'anhu, yang mengalami penyiksaan berat karena memeluk Islam. Dalam riwayat sahih, Khabbab pernah mengadukan penderitaan kaum Muslimin kepada Rasulullah ﷺ. Beliau kemudian mengingatkan bahwa orang-orang beriman sebelum mereka juga mengalami ujian yang berat, dan Allah akan menyempurnakan agama ini.
“Demi Allah, sungguh Allah akan menyempurnakan urusan agama ini.”
HR. Al-Bukhari, no. 3612
Pesan beliau bukan agar para sahabat berputus asa. Justru beliau menanamkan keteguhan, kesabaran, dan keyakinan terhadap janji Allah.
Jamaah sekalian,
Perhatikanlah benang merah dari semua kisah ini. Rasulullah ﷺ membentuk manusia yang memiliki keyakinan kuat, sabar, jujur, berani mempertahankan kebenaran, dan tidak mudah diperbudak oleh dunia.
Beliau tidak sekadar mengajarkan para sahabat untuk mengetahui siapa Allah, tetapi membimbing mereka agar benar-benar menghambakan diri kepada-Nya.
4. Muhasabah: Sudahkah Tauhid Menjadi Perhatian Utama dalam Pembinaan Umat?
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Sekarang, marilah kita kembali kepada keadaan kita sendiri.
Sudahkah majelis-majelis ilmu, pengajian masjid, pendidikan keluarga, dan berbagai kegiatan dakwah kita memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap pembenahan tauhid dan akidah umat?
Kita patut bersyukur karena masjid-masjid masih ramai oleh pengajian. Banyak ustaz dan dai yang mengajarkan Al-Qur'an dan sunnah. Banyak lembaga pendidikan Islam yang berjuang membina generasi Muslim.
Namun, kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah pembinaan tersebut telah membentuk keyakinan yang benar-benar tertanam dalam kehidupan sehari-hari?
Apakah orang yang rajin menghadiri pengajian semakin takut berbuat zalim? Apakah orang yang memahami agama semakin menjaga amanah? Apakah orang yang mengetahui kebesaran Allah semakin berhati-hati ketika mencari rezeki? Apakah orang yang mengaku bertawakal kepada Allah semakin menjauhi perjudian, penipuan, dan perbuatan yang merusak kehormatan?
Sebab, ukuran keberhasilan pembinaan agama bukan hanya seberapa banyak materi disampaikan, tetapi juga bagaimana ilmu itu membimbing manusia untuk semakin taat kepada Allah.
Kita melihat adanya perjudian online yang merusak sebagian keluarga. Kita mendapati orang-orang yang terjebak pinjaman online yang menjerat, praktik riba, penipuan, dan gaya hidup yang melampaui kemampuan. Kita prihatin terhadap perzinaan, kekerasan seksual, serta tindakan yang menghilangkan nyawa dan merusak kehormatan manusia.
Kita juga melihat sebagian orang yang masih mempercayai jimat, mencari perlindungan melalui benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib, meminta pertolongan kepada selain Allah dalam perkara yang merupakan kekhususan-Nya, atau menggantungkan nasib kepada ramalan dan praktik perdukunan yang bertentangan dengan tauhid.
Di sinilah kita harus berhati-hati. Tidak semua orang yang melakukan dosa otomatis melakukan syirik, dan tidak setiap kesalahan menunjukkan bahwa akidah seseorang telah rusak. Setiap persoalan perlu dinilai berdasarkan ilmu dan dalil. Namun, berbagai penyimpangan tersebut menjadi pengingat bahwa pembinaan iman, ilmu, dan akhlak tidak boleh berhenti.
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
QS. Adz-Dzariyat: 56
Tujuan hidup kita bukan sekadar mencari harta, mengejar kedudukan, membangun rumah, atau memenuhi keinginan dunia. Semua itu boleh diusahakan melalui jalan yang halal. Namun, tujuan terbesar kita adalah beribadah kepada Allah dan menjalani kehidupan sesuai dengan petunjuk-Nya.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Hak Allah atas para hamba adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu
Inilah fondasi yang harus terus diperkuat.
5. Tauhid yang Benar Melahirkan Ketaatan dan Perbaikan Kehidupan
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Tauhid bukan hanya pembahasan teoritis yang selesai setelah seseorang memahami definisinya. Tauhid harus menumbuhkan penghambaan kepada Allah, ketundukan kepada syariat-Nya, dan akhlak yang baik kepada sesama manusia.
Ketika seseorang benar-benar meyakini bahwa Allah Maha Melihat, ia akan berhati-hati meskipun tidak ada manusia yang mengawasinya.
Ketika seseorang meyakini bahwa rezeki berada di tangan Allah, ia tidak seharusnya mencari kekayaan melalui perjudian, penipuan, korupsi, ataupun cara-cara yang diharamkan.
Ketika seseorang meyakini adanya hari pembalasan, ia akan berpikir sebelum mengambil hak orang lain.
Ketika seseorang memahami bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, ia akan berhati-hati terhadap ucapan, transaksi, dan perbuatannya, termasuk ketika berada di balik layar telepon genggam yang tidak diketahui orang lain.
Inilah buah keimanan yang hidup.
“Sesungguhnya Kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi.”
QS. Ghafir: 51
Ayat ini menguatkan keyakinan kita bahwa pertolongan Allah adalah benar. Akan tetapi, kita tidak boleh memahaminya sebagai jaminan bahwa setiap orang beriman akan selalu terbebas dari penderitaan dunia. Para nabi dan sahabat sendiri mengalami ujian yang berat.
Pertolongan Allah dapat hadir dalam berbagai bentuk: keteguhan hati, terbukanya jalan kebenaran, perlindungan dari keburukan, kemenangan yang Allah kehendaki, atau pahala dan keselamatan di akhirat. Waktu dan bentuk pertolongan itu berada dalam hikmah Allah.
Karena itu, tugas kita bukan menentukan kapan Allah harus menolong kita, melainkan memperbaiki iman, menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan berikhtiar dengan cara yang diridhai-Nya.
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh-sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai; dan Dia sungguh-sungguh akan mengubah keadaan mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun.”
QS. An-Nur: 55
Perhatikan ayat ini, jamaah sekalian. Allah menyebutkan iman, amal saleh, keteguhan agama, keamanan, dan penghambaan yang bersih dari kemusyrikan.
Ini bukanlah ajakan untuk sekadar mengucapkan bahwa kita beriman, kemudian mengabaikan kewajiban. Iman harus diwujudkan dalam amal saleh dan ketaatan.
Begitu pula dalam kehidupan berbangsa. Kita tidak cukup hanya menginginkan negeri yang aman, makmur, dan sejahtera. Kita harus membangun masyarakat yang jujur, amanah, adil, berilmu, menjauhi kemaksiatan, serta menunaikan hak sesama manusia.
6. Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur Tidak Hadir Tanpa Ikhtiar
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Kita tentu mendambakan negeri yang baik, masyarakat yang aman, keluarga yang tenteram, pemimpin yang amanah, ekonomi yang membawa keberkahan, dan kehidupan yang dinaungi ampunan Allah.
Al-Qur'an mengabadikan ungkapan yang indah tentang negeri Saba':
“Sungguh, bagi kaum Saba' ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Dikatakan kepada mereka), ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang dianugerahkan Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.’”
QS. Saba': 15
Ungkapan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur menggambarkan negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.
Akan tetapi, jamaah sekalian, apakah negeri yang baik itu akan hadir dengan sendirinya? Apakah kita bisa mengharapkan keberkahan sementara kezaliman dibiarkan, amanah dikhianati, hak orang lain dirampas, dan kemaksiatan dianggap biasa?
“Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”
QS. Al-A'raf: 96
Ayat ini mengajarkan hubungan yang sangat penting antara iman, takwa, dan keberkahan. Namun, kita tidak boleh menyederhanakan semua musibah seolah-olah setiap kesulitan ekonomi atau bencana pasti disebabkan oleh dosa tertentu. Ujian dapat menimpa siapa pun, termasuk orang-orang saleh. Tugas kita adalah bertobat dari dosa, memperbaiki diri, dan tetap menempuh ikhtiar yang benar.
Rasulullah ﷺ sendiri menjadi teladan bagaimana perubahan dibangun. Beliau membina iman, mendidik akhlak, mengajarkan syariat, membangun persaudaraan, menegakkan keadilan, dan memberikan contoh dalam kehidupan nyata.
Karena itu, apabila kita ingin meneladani Rasulullah ﷺ, jangan hanya mengambil sebagian ajarannya yang kita sukai. Mari kita pelajari sunnah beliau secara menyeluruh, sesuai dengan kemampuan kita, dengan ilmu, kesabaran, dan kebijaksanaan.
Kita tidak dapat mengharapkan perubahan yang baik apabila kita sendiri tidak bersedia berubah. Kita tidak dapat menuntut masyarakat menjadi jujur jika kita membenarkan kebohongan. Kita tidak dapat menginginkan anak-anak yang saleh jika kita tidak memberikan keteladanan. Kita tidak dapat berharap kehidupan yang berkah jika kita sengaja mempertahankan cara hidup yang bertentangan dengan perintah Allah.
7. Menjadikan Masjid sebagai Pusat Pembinaan Tauhid
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Dari seluruh renungan ini, khatib mengajak kita mengambil sebuah langkah nyata.
Mari kita menjadikan Masjid bukan hanya sebagai tempat melaksanakan shalat berjamaah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan iman, tauhid, ilmu, akhlak, dan kepedulian sosial.
Khatib mengajak pengurus masjid, para ustaz, para dai, tokoh masyarakat, dan seluruh jamaah untuk mempertimbangkan sebuah agenda pembahasan tauhid yang terprogram, berkesinambungan, dan disampaikan secara bertahap.
Bukan hanya satu atau dua kali pengajian, lalu berhenti. Bukan hanya pembahasan yang datang ketika ada persoalan. Akan tetapi, pembinaan yang terencana agar jamaah memahami dasar-dasar iman, mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang sempurna, memahami hak Allah untuk diibadahi, serta belajar membedakan ibadah yang benar dari praktik yang menyimpang.
Kita perlu membimbing umat agar memahami tauhid dalam penghambaan kepada Allah, mengenal kesempurnaan Allah dalam Dzat, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya, serta meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pengatur segala sesuatu. Pembahasan ini hendaknya berlandaskan Al-Qur'an dan sunnah, disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, serta mengikuti penjelasan ulama yang tepercaya.
Mengapa agenda ini penting?
Karena Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan bahwa pembinaan iman membutuhkan waktu, kesabaran, pengulangan, dan pendampingan.
Jangan sampai kita begitu mudah mengenali kesalahan orang lain, tetapi tidak memahami bagaimana memperbaiki diri sendiri. Jangan sampai kita lantang berbicara tentang tauhid, tetapi masih menzalimi keluarga, mengingkari amanah, merendahkan sesama Muslim, atau meremehkan hak orang lain.
Pembinaan tauhid harus membawa kita semakin rendah hati, semakin takut kepada Allah, semakin jujur, semakin menjaga shalat, semakin bersih dalam mencari rezeki, dan semakin baik dalam memperlakukan sesama manusia.
Jamaah sekalian,
Sebagian bentuk kemusyrikan dapat tersembunyi dari pandangan manusia. Ada keyakinan yang diwarisi tanpa ilmu, ada kebiasaan yang dilakukan tanpa memahami maknanya, dan ada ketergantungan hati kepada selain Allah yang perlu diluruskan.
Karena itu, para ulama sering mengingatkan pentingnya mempelajari tauhid dan menjaga diri dari syirik. Kita tidak perlu tergesa-gesa menuduh individu atau kelompok tertentu melakukan syirik. Yang lebih mendesak adalah membekali diri dan keluarga dengan ilmu, mengajak masyarakat dengan hikmah, dan mengoreksi keyakinan berdasarkan dalil yang jelas.
Semoga melalui pembinaan yang terarah, jamaah Masjid semakin memahami makna la ilaha illallah, semakin ikhlas beribadah kepada Allah, dan semakin mampu menjauhi segala bentuk penghambaan kepada selain-Nya.
Marilah kita mulai dari diri sendiri, kemudian keluarga, lingkungan, dan masyarakat.
Jangan hanya bertanya, “Kapan pertolongan Allah akan datang?”
Tetapi tanyakan pula kepada diri kita, “Apa yang sudah kita lakukan untuk memperbaiki iman, menunaikan perintah Allah, meninggalkan dosa, dan menolong sesama?”
Semoga Allah membimbing kita menjadi hamba-hamba yang benar-benar bertauhid, teguh dalam keimanan, taat kepada syariat, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Sekali lagi, marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.
Dari khutbah yang telah kita dengarkan, ada beberapa hal yang patut kita bawa pulang dan kita renungkan.
Pertama, janganlah kita berputus asa menghadapi berbagai persoalan masyarakat. Seberat apa pun keadaan, rahmat Allah tetap luas. Namun, harapan kepada pertolongan Allah harus disertai iman, doa, tobat, ketaatan, dan ikhtiar yang sungguh-sungguh.
Kedua, mari kita meneladani Rasulullah ﷺ dalam membina umat. Perubahan yang kokoh tidak cukup dibangun melalui seruan dan slogan. Ia membutuhkan pendidikan iman, ilmu yang benar, keteladanan, penegakan keadilan, perbaikan akhlak, dan kesungguhan memperbaiki kehidupan.
Ketiga, mari kita hidupkan pembinaan tauhid secara terprogram di Masjid. Semoga masjid ini menjadi tempat tumbuhnya masyarakat yang semakin mengenal Allah, semakin bersih ibadahnya, semakin kuat imannya, dan semakin baik akhlaknya.
Keempat, mari kita mulai perubahan dari diri sendiri. Perbaiki shalat kita, jaga keluarga kita, tinggalkan perjudian, jauhi perzinaan, hindari transaksi yang haram, tunaikan amanah, dan jangan pernah meremehkan hak orang lain.
Semoga Allah tidak hanya memperbaiki keadaan negeri kita, tetapi juga memperbaiki hati kita, keluarga kita, dan seluruh kehidupan kita.
Marilah kita menutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.